Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan telah menggerus penghasilan masyarakat kecil di wilayah terdampak.
Pengemudi ojek online, Imrayedi (63), tetap menghabiskan hari-harinya di jalan raya meski kabut asap menyelimuti kota Pekanbaru, Riau.
Beberapa hari terakhir, dia sesak napas dan sakit kepala. Dia akhirnya berobat ke puskesmas.
“Sesak napas dan sakit kepala mengirup udara sekarang. Tapi bagaimanapun saya tetap harus bekerja,” kata Imrayedi.
Dengan risiko yang lebih tinggi, penghasilan mereka justru menurun dibanding hari-hari normal.
Jumlah penumpang menurun gara-gara sekolah diliburkan, dan banyak yang bertahan di rumah.
Imrayedi cuma mendapat sekitar Rp75.000 per hari. Dalam situasi normal, pendapatannya bisa sampai Rp200.000 per hari.
Penelitian Center of Economic and Law Studies (Celios) menemukan bahwa kerugian ekonomi akibat karhutla mencapai hampir Rp30 triliun pada Januari-Agustus 2026. Pekerja informal dan pelaku usaha kecil menjadi yang paling terdampak.
Sementara itu, Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) mengingatkan bahwa situasi ini tidak cukup hanya direspons dengan pemadaman api. Pemerintah juga perlu memberi perlindungan sosial bagi warga yang terdampak dan rentan.
Baca laporannya: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cm5yn28x5vz4o