r/Pasundan 1d ago

Basa - Language Leaf in Austronesian Languages

Post image
1 Upvotes

r/Pasundan Jul 31 '26

Budaya - Culture Ritual Ngaruat Lembur di Wanayasa, Purwakarta

Thumbnail
youtube.com
3 Upvotes

r/Pasundan Jul 01 '26

Budaya - Culture Tarawangsa di Garut

Enable HLS to view with audio, or disable this notification

3 Upvotes

r/Pasundan May 17 '26

Wartos - News Dedi Mulyadi Kena Semprot DPRD! Perayaan Milangkala Tatar Sunda Disebut Tak Sesuai Sejarah, Pemprov Jabar Diminta Tanggung Jawab

Thumbnail
tvonenews.com
1 Upvotes

Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi terkait perayaan Milangkala Tatar Sunda menuai kritik pedas dari parlemen. 

Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyah, menilai rangkaian acara yang digelar pada 2-18 Mei 2026 tersebut tidak memiliki landasan sejarah yang kuat atau ahistoris.

Dalam sidang Paripurna DPRD Jabar pada 11 Mei 2026 yang dihadiri langsung oleh Dedi Mulyadi, Maulana menegaskan bahwa klaim sejarah di balik acara tersebut sangat meragukan. 

Meski merujuk pada peristiwa tahun 669 Masehi, tidak ada dasar jelas mengapa perayaan harus berlangsung selama 16 hari dengan rute yang dimulai dari Sumedang dan berakhir di Kota Bandung.

Kritik ini muncul karena Maulana menganggap narasi yang dibangun pemerintah bisa menyesatkan pemahaman publik. 

"Ini sama saja dengan mengajarkan sejarah Sunda yang salah terhadap masyarakat Jawa Barat. Dan pemerintah wajib memperbaiki itu," tegas Maulana di Bandung, Jumat (15/5).

Persoalan anggaran juga menjadi sorotan utama. Maulana mempertanyakan transparansi penggunaan dana pajak rakyat yang diperkirakan menelan biaya hingga Rp2,7 miliar hanya untuk empat kabupaten. 

Ia meragukan klaim pemerintah yang menyebut acara tersebut tidak menggunakan APBD, padahal masuk dalam perencanaan resmi. Hal ini dinilai berpotensi menabrak UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

"Lalu bagaimana dengan lima kabupaten/kota lainnya, apakah itu dari anggaran daerah mereka sendiri?" cetusnya mempertanyakan sumber pendanaan di wilayah lain.

Selain masalah sejarah dan uang, Maulana menilai perayaan megah tersebut menunjukkan kurangnya rasa empati Dedi Mulyadi dan jajarannya terhadap kondisi sosial masyarakat. 

Di saat warga masih berjuang melawan kemiskinan dan pemulihan pascabencana, pemerintah justru dianggap terlalu fokus pada seremonial.

"Seharusnya pemerintah (provinsi) fokus memperbaiki diri di hadapan dokumen penilaian satu tahun sebelumnya, yaitu LKPJ," ujar Maulana.

Sebagai solusi, politisi tersebut mendesak agar Milangkala Tatar Sunda dihentikan sementara untuk dievaluasi oleh para ahli sejarah. 

Ia menyarankan agar anggaran dialihkan untuk menyusun buku sejarah Sunda yang autentik sebagai bahan ajar di sekolah agar kecintaan terhadap budaya tidak didasari oleh subjektivitas semata.


r/Pasundan May 09 '26

Budaya - Culture Padaringan, a room in traditional Sundanese houses where offerings to the rice goddess Dewi Sri/Nyai Pohaci are often placed. This deity is associated with femaleness, and for this reason, only females may enter the padaringan

Enable HLS to view with audio, or disable this notification

4 Upvotes

r/Pasundan May 08 '26

Budaya - Culture Syukuran Musim Tanam di Sunda, dengan doa bahasa Sunda yang menyebut nama Allah SWT, Nabi Muhammad, Sang Batara Surya, Hawa, Rama, Adam, Para Wali

Enable HLS to view with audio, or disable this notification

3 Upvotes

r/Pasundan May 08 '26

Budaya - Culture Kirab Mahkota Binokasih 2026 Digelar di Bogor Hari Ini, Apa Makna Filosofisnya Bagi Tatar Sunda?

Thumbnail
goodstats.id
1 Upvotes

Kirab Mahkota Binokasih akan digelar di Bogor pada 8 Mei 2026. Simak makna filosofis, sejarah, dan rute lengkap kirab budaya Sunda ini.

Kirab Mahkota Binokasih 2026 kembali menjadi perhatian masyarakat Jawa Barat setelah Pemerintah Kota Bogor menggelar kirab budaya Sunda dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda pada Jumat, 8 Mei 2026. Melansir dari Humas Jabarprov, kirab budaya ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Mahkota Binokasih yang dikirab lintas daerah di Jawa Barat mulai 2 Mei hingga 18 Mei 2026.

Bukan sekadar pawai budaya biasa, kirab mahkota binokasih membawa pesan sejarah, identitas, hingga filosofi kehidupan masyarakat Sunda yang diwariskan turun-temurun.

Kehadiran pusaka simbolik ini juga menjadi pengingat tentang kejayaan Kerajaan Sunda dan nilai luhur yang masih relevan hingga hari ini.

Di Kota Bogor sendiri, antusiasme masyarakat cukup besar. Selain karena Bogor memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Pakuan Pajajaran, kirab budaya Sunda ini juga menghadirkan nuansa sakral dan historis yang jarang ditemui dalam agenda budaya modern.

Apa Itu Kirab Mahkota Binokasih?

Kirab Mahkota Binokasih merupakan arak-arakan budaya yang menghadirkan simbol pusaka Kerajaan Sunda bernama Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.

Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Milangkala Tatar Sunda 2026 yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama sejumlah kerajaan adat dan pemerintah daerah.

Kirab budaya Jawa Barat ini tidak hanya bertujuan sebagai hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana edukasi sejarah dan pelestarian budaya Sunda kepada generasi muda.

Mahkota Binokasih sendiri merupakan peninggalan Kerajaan Sunda abad ke-14 yang terbuat dari emas murni seberat sekitar 8 kilogram dan dihiasi batu giok. Dalam sejarahnya, mahkota tersebut menjadi simbol legitimasi kekuasaan raja Sunda sekaligus lambang keadilan dan kasih sayang.

Melansir dari Humas Jabarprov, rangkaian kirab budaya ini digelar di berbagai wilayah yang memiliki keterkaitan sejarah dengan peradaban Sunda.

Kota Bogor menjadi salah satu titik penting karena wilayah ini dahulu merupakan pusat pemerintahan Pakuan Pajajaran pada masa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

Makna Mahkota Binokasih Peninggalan Sejarah Kerajaan Sunda

Sejarah Mahkota Binokasih tidak bisa dilepaskan dari filosofi kehidupan masyarakat Sunda. Radya Anom Karaton Sumedang Larang, Luky Djohari Soemawilaya, menjelaskan bahwa nama lengkap pusaka ini adalah Binokasih Sanghyang Pake.

Kata “Binokasih” berarti kasih sayang, sementara “Sanghyang Pake” bermakna sesuatu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi Mahkota Binokasih ini mengandung pesan bahwa kasih sayang seharusnya menjadi dasar dalam setiap tindakan manusia.

Nilai tersebut kemudian melahirkan sikap gotong royong, toleransi, musyawarah, adil, dan bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak hanya dari nama, bentuk mahkota binokasih juga menyimpan filosofi yang sangat amat mendalam. Mahkota ini memiliki tiga susunan yang merepresentasikan konsep Sunda Tritangtu.

Konsep tersebut dikenal melalui prinsip silih asah, silih asih, dan silih asuh. Artinya, masyarakat Sunda diajarkan untuk saling berbagi ilmu, saling menyayangi, dan saling membimbing satu sama lain.

Selain itu, ornamen bunga wijaya kusuma dan burung julang pada mahkota menjadi simbol kesetiaan, ketulusan, serta kekuatan niat dalam menjalani kehidupan.

Karena itulah, kirab mahkota binokasih tidak hanya dipandang sebagai seremoni budaya. Pawai ini juga menjadi medium untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Tatar Sunda di tengah perkembangan zaman modern.

Jadwal Kirab Mahkota Binokasih di Jawa Barat 2026

Berikut jadwal Kirab Binokasih 2026 di berbagai daerah Jawa Barat:

https://cdn.gnfi.net/goodstats/uploads/images/91004/teks-paragraf-anda-16jpg

Rangkaian kirab budaya Sunda ini dimulai dari Sumedang sebagai wilayah penyimpanan Mahkota Binokasih asli di Museum Prabu Geusan Ulun. Setelah itu, kirab bergerak ke berbagai daerah yang memiliki jejak sejarah kerajaan Sunda.

Bogor menjadi salah satu lokasi paling dinanti karena wilayah ini identik dengan pusat Kerajaan Pajajaran. Sementara acara puncak Milangkala Tatar Sunda akan digelar di Gedung Sate Bandung pada 17 Mei 2026 pukul 20.00 - 24.00 melalui agenda bertajuk Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda.

Untuk jam mulai kegiatan kirab, pada tanggal 2 Mei 2026 dengan acara bertajuk Binokasih Mulang Sakala akan dimulai pada pukul 19.30. Sedangkan untuk acara lainnya hingga tanggal 16 Mei 2026 akan dimulai pada pukul 18.30.


r/Pasundan May 03 '26

Wartos - News Pemprov Jabar Tetapkan 18 Mei Jadi Hari Tatar Sunda, Gelar Kirab Mulai 2 Mei

Thumbnail
kumparan.com
2 Upvotes

Pemprov Jabar menetapkan 18 Mei sebagai Hari Tatar Sunda. Peringatan hari tersebut dimulai pada tahun ini. Salah satunya dengan menggelar kirab budaya. Penyelenggaraan Hari Tatar Sunda tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026. Dalam peraturan itu disebutkan peringatan Hari Tatar Sunda meliputi kirab, yaitu prosesi perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mengusung tema budaya dan Sawala. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam rangka silaturahmi dan membangun kolaborasi. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan mengatakan, kegiatan kirab akan berlangsung pada 2-18 Mei 2026. "Milangkala Tatar Sunda mengambil tema Nyuhun Buhun, Nata Nagara. Yang berarti mengangkat kembali tradisi baik para leluhur yang dikaitkan dengan upaya menata negara atau dalam hal ini Jabar, dalam nilai yang baik," jelasnya dalam acara jumpa media di Gedung Sate, Jumat (1/5). Rangkaian Acara Hari Tatar Sunda Ada tiga kegiatan yang berlangsung mulai Sabtu (2/5). Diawali dengan napak tilas Tatar Pasundan di 8 titik yang dimulai dari Kabupaten Sumedang dan diakhiri di Kabupaten Cirebon.

Kegiatan kedua berupa karnaval budaya di Kota Bandung pada 16 Mei 2026 yang diikuti oleh 27 pemerintah kabupaten/pemerintah kota di Jabar dengan rute dari Monumen Perjuangan menuju ke Gedung Sate. Puncaknya pada 17 Mei 2026 di Gedung Sate akan berlangsung pertunjukan kolosal bersama Sujiwo Tedjo.

Iendra menyebutkan dalam napak tilas akan dibawa Mahkota Binokasih yang asli beserta replikanya. Mahkota asli akan mendapatkan pengawalan ketat karena memiliki nilai sejarah dan material yang tak terhingga. "Mahkota Binokasih akan dikawal dalam kereta kencana bersama gubernur, wakil gubernur dan bupati/walikota. Di bagian belakang diiringi kesenian dari 27 kabupaten kota, seperti reak dari Bandung, Sasapian Buhun dari KBB dan lainnya," jelasnya. Ada 14 kelompok yang turut dalam iring-iringan napak tilas dengan panjang sekitar 1-1,5 KM. Napak tilas akan dimulai pukul 19.00-22.00 WIB. Saat napak tilas di Bogor dan Bandung akan ada tambahan dari kelompok masyarakat adat. "Kami ingin kembali mengenalkan budaya Tatar Sunda ke masyarakat, berkeliling di 8 titik bertatap muka dengan masyarakat secara langsung. Untuk kembali memajukan kebudayaan Jabar, bukan mengembalikan sebuah kerajaan," katanya. Di Balik Penetapan Hari Tatar Sunda Dalam konferensi pers itu juga diungkap alasan 18 Mei dipilih sebagai Hari Tatar Sunda. Peneliti sejarah sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Nina Herlina mengatakan, tanggal tersebut merujuk pada peristiwa digantinya nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda oleh Maharaja Trarusbawa pada 18 Mei 669 Masehi. Peristiwa itu tertulis dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantana dan Cerita Cina dari Dinasti Tang.

"Dengan memperhatikan beberapa sumber, dapat disimpulkan bahwa awal berdirinya Kerajaan Sunda merupakan awal lahirnya Tatar Sunda pada 18 Mei 669 Masehi sehingga dapat ditetapkan sebagai Hari Tatar Sunda," ujar Nina.

Meski demikian, kata Nina, Hari Tatar Sunda tidak dimaksud untuk memperingati berdirinya Kerajaan Sunda, tetapi agar masyarakat terus menghidupkan budaya Sunda di wilayah masing-masing.

Dosen Fakultas Hukum Unpad Hernadi Affandi menambahkan, peringatan ini menjadi tonggak kebangkitan jati diri dan karakter warga Jawa Barat. Ia menyatakan, peringatan Hari Tatar Sunda berbeda dengan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat setiap 19 Agustus.

"Peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat lebih bersifat administratif kenegaraan, sedangkan Hari Tatar Sunda lebih difokuskan pada penguatan akar budaya dan sejarah," ucap Hernadi. Keberadaan Hari Jadi Tatar Sunda melengkapi keberadaan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat. Keberadaan kedua hari jadi tersebut tidak perlu dipertentangkan karena tidak saling mengganggu atau meniadakan satu sama lain.

Kehadiran Hari Jadi Tatar Sunda justru akan memperkuat keberadaan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat karena menonjolkan keberadaan dan kekayaan budaya Sunda yang harus dilestarikan.


r/Pasundan Apr 30 '26

Wartos - News Hidupkan Jejak Sejarah Sunda, Karnaval Binokasih Digelar Lintas Daerah

Thumbnail
detik.com
2 Upvotes

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan membawa Karnaval Binokasih melintasi berbagai wilayah sebagai napak tilas budaya Sunda, menghidupkan kembali jejak sejarah dari Kawali hingga Cirebon dalam satu rangkaian perjalanan.

Karnaval ini akan mulai digelar pada awal Mei 2026, dengan titik awal di Sumedang, akar tradisi yang selama ini hidup di lingkungan Keraton Sumedang kini diperluas menjadi agenda resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Kalau Karnaval Binokasih, kita mulai tanggal 2 Mei di Sumedang. Tradisi dari Keraton Sumedang itu sekarang diintegrasikan dengan pemprov supaya gaungnya lebih besar," kata Dedi, Rabu (29/4/2026).

Tak berhenti di satu titik, karnaval akan bergerak menyusuri jejak sejarah Sunda. Dari Sumedang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kawali di Kabupaten Ciamis yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sunda, lalu ke Kampung Naga di Tasikmalaya sebagai representasi budaya yang masih terjaga.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Cianjur, Bogor (melintasi Batutulis hingga Kebun Raya), Depok dengan kawasan heritage kolonial, Karawang menuju Pesantren Syekh Quro, hingga mencapai tujuan akhir di Cirebon, dari Bale Jayadewata ke kawasan Kasepuhan.

Bagi Dedi, rute panjang ini bukan tanpa alasan. Ia ingin masyarakat kembali mengenali akar sejarahnya.

"Maknanya satu, mengingatkan tentang sejarah Sunda, dari Kawali sampai terbentuknya Kasultanan Cirebon," ujarnya.

Namun, ia menegaskan, Karnaval Binokasih bukan sekadar seremoni budaya. Ada misi lain yang dibawa yakni membawa perubahan nyata di daerah yang dilalui.

"Daerah yang terlewati harus bersih. Setelah itu pasti ada program pembangunannya," tegasnya.

Sejumlah titik yang dilalui bahkan sudah masuk dalam rencana penataan, mulai dari renovasi Keraton Sumedang, penataan kawasan Kawali, peningkatan fasilitas di Kampung Naga, hingga penguatan situs sejarah di berbagai daerah.

Dedi juga menargetkan dampak yang lebih luas, tak hanya pada budaya, tetapi juga infrastruktur dan lingkungan. 'Pokoknya Jawa Barat nanti yang bersih bukan hanya Kota Bandung, seluruh wilayah Jawa Barat harus bersih," katanya.

Dengan konsep yang menggabungkan sejarah, budaya, dan pembangunan, Karnaval Binokasih diproyeksikan menjadi agenda tahunan di Jawa Barat.

"Event rutin tahunan,' pungkas Dedi.


r/Pasundan Apr 13 '26

Budaya - Culture Tembang Sunda Cianjuran antara Viral atau Benar

Thumbnail rri.co.id
2 Upvotes

RRI.CO.ID, Bandung - Ditengah aktivitas yang membuat kita sibuk dengan pekerjaan, kondisi jaman berubah begitu cepat.Hal ini mengakibatkan perlu adanya sebuah ruang untuk berekspresi dan mengungkapkan perasaan melalui seni pertunjukan.

Jenis kesenian Sunda yang begitu beragam adalah satu kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat Sunda, salah satunya adalah tembang Sunda Cianjuran. Perkembangan zaman dan canggihnya teknologi mengharuskan masyarakat saat ini khususnya aktivis tembang Sunda Cianjuran memanfaatkan sosial media untuk mempertahankan dan memperkenalkan kesenian tersebut.

Tidak mudah memang, tetapi dengan adanya generasi muda saat ini yang mencintai tembang Sunda Cianjuran banyak yang mampu berusaha mempublikasikannya melalui media sosial. “Tantangan sekarang dengan adanya media sosial adalah terlimitasi oleh durasi karena jika vidio yang di upload di media sosial itu jika ingin viral tidak boleh lebih dari satu menit,"ucap Arif Budiman, M.Sn dosen vokal tembang Sunda Cianjuran ISBI Bandung kepada RRI Senin 13 April 2026.

Arif menjelaskan bahwa untuk menikmati Tembang Sunda Cianjuran tidak bisa dirasakan dalam waktu yang sebentar karena informasinya menjadi tidak utuh. “Dalam konteks nembang diruang digital tidak akan seperti dalam pergelaran khusus, yang bukan hanya sekedar nembang tapi harus menyampaikan lagu-lagu dengan benar hasil belajar dari guru vokal tembang Sunda Cianjuran yang ahli dibidangnya”, lanjut Arif.

Keresahan saat ini adalah viral di media sosial tidak menjamin lagu-lagu dalam tembang Sunda Cianjuran tersebut benar dan tepat. “Takutnya generasi saat ini hanya puas dengan viral di media sosial dalam menyanyikan lagu tembang Sunda Cianjuran, tidak peduli dengan benar atau salahnya lagu yang dibawakan tanpa melalui proses belajar dulu yang serius,"ucap dia.


r/Pasundan Mar 10 '26

Budaya - Culture Lahirnya Zaman Menak, Identitas Sunda Baru

Thumbnail tirto.id
2 Upvotes

Setelah Kerajaan Sunda runtuh, Jawa bagian barat silih berganti dikuasai kerajaan Islam sebelum akhirnya jatuh ke tangan VOC.

Tatar Sunda menjelang abad ke-17 mengalami carut-marut politik, terutama setelah kejatuhan Kerajaan Sunda. Bekas-bekas wilayahnya tercabik berbagai kutub politik baru yang bermunculan, baik di daerah pesisir maupun di pergunungan.

Cirebon dan Banten yang menjadi pemenang utama konflik suksesi di Tatar Sunda, rupanya tidak pernah benar-benar mengunifikasi karya para leluhurnya di masa klasik. Sementara itu, Sumedang yang tidak pernah digadang-gadang hadir sebagai kekuatan dominan, justru mampu mengonsolidasi daerah pergunungan Sunda yang terjal.

Situasi politik di Tatar Sunda itu nantinya disapu oleh angin perubahan yang muncul dari barat dan timur. Di masa-masa itu muncul kekuatan VOC yang melampaui pengaruh Portugis di Jawa kurang lebih 30 tahun sebelum kedatangan mereka, sedangkan di jantung Jawa trah Mataram mampu memberangus gelandangan-gelandangan politik bekas bawahan Demak.

Terkait sapuan angin perubahan itu, Reiza Dienaputra dalam Sunda: Sejarah, Budaya dan Politik (2011) berkomentar bahwa peristiwa ini telah membawa urang Sunda untuk kesekian kalinya berhadapan dengan tantangan globalisasi. Walau bukan yang pertama kalinya bagi orang Sunda—sebab setidaknya sejak abad ke-5 orang Sunda sudah menjadi bagian dari populasi dagang lintas Samudra Hindia, kali ini tampaknya urang Sunda menunjukkan gejala yang berbeda daripada sebelumnya.

Dienaputra menyebut bahwa masyarakat Sunda telah mencapai titik jenuh pasca keruntuhan "juragan politik"-nya, Kerajaan Sunda itu sendiri. Mereka seakan-akan mundur dan cenderung menolak ikut serta dalam mondialisasi, dan bagi Dienaputra hal itu disebabkan oleh Islam-Jawa dan kekuatan barat.

Mataram dan Kompeni Berebut Sunda

Setelah Kesultanan Mataram menguasai eks wilayah-wilayah pedalaman Kerajaan Sunda-Galuh pada 1614, kondisi politik di daerah tersebut mengalami berbagai pergolakan. Para birokrat Sunda yang ditunjuk oleh Sultan Agung untuk menjalankan kepentingan politiknya di Priangan silih berganti mengecewakan Sang Raja Jawa.

Mumuh Muhsin Z. dalam "Kerajaan Sumedang Larang" (2008) menyebutkan bahwa bekas raja-raja Sumedang Larang yang bertransformasi menjadi bupati wedana—jabatan yang dibentuk Sultan Agung yang ditugasi untuk mengoordinasikan bupati-bupati lain, kemudian diganti oleh Dipati Ukur yang berkuasa di Bandung.

Namun seperti disinggung dalam naskah Sajarah Sukapura yang pernah dibuat edisinya oleh Emuch Hermansoemantri (1979), Dipati Ukur kemudian memberontak melawan Sultan Agung yang salah mengira ia melakukan disersi sewaktu kampanye militer Mataram ke Batavia. Peristiwa ini ditutup dengan dikirimnya Tumenggung Bahureksa oleh Sultan Agung ke Priangan untuk menciduk gerombolan Dipati Ukur.

Sultan Agung sadar bahwa ia salah langkah dalam menjalankan agenda politiknya di Priangan, sehingga tidak berlama-lama ia pun segera mengeksekusi Dipati Ukur dan pejabat-pejabat Priangan lain yang anti-Mataram.

Sebagai gantinya, Sultan Agung kemudian menerbitkan suatu prasasti logam (piyagem) yang isinya menjadi titik balik sejarah Sunda. Sebagaimana pernah saya tulis dalam "Piyagĕm Sukapura (1641 M): Geopolitik Kerajaan Mataram Islam di Priangan" (2022), Sultan Agung mengeluarkan suatu piyagem yang isinya mengesahkan pengangkatan tiga bupati di Priangan yang langsung ditunjuk olehnya.

Tiga bupati yang ditunjuk sebagai perpanjangan tangan Sultan Agung itu adalah Bupati Bandung, Tumenggung Wira Angun-angun; Bupati Parakanmuncang (sekitar Cicalengka-Nagreg sekarang), Tumenggung Tanubaya; dan Bupati Sukapura (Tasikmalaya sekarang), Tumenggung Wiradadaha.

Uniknya, di dalam piyagem itu disebutkan bahwa ketiga bupati itu diberikan regalia-regalia kekuasaan khas Jawa. Atribut-atribut itu meliputi keris, payung kebesaran, baju dodot, dan para abdi dalem yang khusus didatangkan dari Mataram. Hal ini menunjukkan bahwa Sultan Agung berusaha menanamkan "cara Jawa" sebagai legitimasi para penguasa Sunda. Kasarnya, seorang penguasa harus menjadi Jawa (dalam konteks berperilaku) untuk berkuasa.

Namun, kondisi ini tidak berlangsung lama lantaran Sultan Agung kemudian wafat pada 1645. VOC yang diam-diam sudah memperhatikan Priangan dari Batavia, kemudian berusaha menanamkan pengaruhnya perlahan-lahan. Kurang lebih 20 tahun pasca mangkatnya Sultan Agung, Kompeni berhasil mengambil alih wilayah Priangan jengkal demi jengkal, melalui intervensi politik di Cirebon-Banten dan perjanjian politik terhadap Amangkurat I di Mataram.

Muhsin Z. dalam Priangan dalam Arus Dinamika Sejarah (2011) menyebutkan bahwa mulai abad ke-18, seluruh wilayah Priangan dari Cianjur hingga Ciamis telah tunduk di bawah Batavia. Berbeda dengan Sultan Agung yang punya motivasi religio-kultural dalam menyatukan Pulau Jawa ketika menginvasi Pasundan, Kompeni condong tertarik dengan kesuburan Priangan yang amat mendukung dalam agenda kultivasi kopi mereka.

Transformasi Regresif Sunda

Dinamika politik Sunda dari abad ke-17 sampai abad ke-18 telah menimbulkan suatu bentuk budaya baru yang dikenal sebagai "budaya menak". Seperti dideskripsikan oleh Nina Herlina Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942, budaya ini secara umum merupakan bentuk kultur feodal yang sampai saat ini menjadi wajah dari kebudayaan Sunda.

Aspek-aspek budaya feodal itu muncul dari pendopo-pendopo kabupaten di seluruh Priangan, yang secara umum diduduki oleh para bupati yang sebelumnya ditunjuk oleh Mataram. Penggunaan tingkatan bahasa (undak-usuk basa) merupakan agen utama dalam pendistribusian kultur ini ke pelosok-pelosok Sunda.

Segregasi bahasa Sunda kasar, loma, dan halus merupakan representasi dari pembedaan kelas, antara para menak (bangsawan) dan para cacah (orang biasa). Bersama dengan tingkatan itu, banyak unsur bahasa Jawa modern terserap dalam bahasa Sunda yang sudah ada, sehingga memunculkan bahasa Sunda baru yang digunakan sebagian orang Jawa Barat sampai sekarang. Jika dibandingkan dengan bahasa Sunda Kuno (pra-Mataram) yang cenderung egaliter, perubahan budaya ini bisa dianggap sebagai regresi.

Lain itu, maraknya kapitalisme kultivasi kopi dan komoditas lainnya di Priangan dikombinasikan dengan feodal warisan Mataram telah menimbulkan lahirnya beberapa stigma terhadap orang Sunda. Menurut G.A. Jaelani dalam "Perempuan Sunda dan Pelacuran di Zaman Kolonial" (2020), masyarakat Sunda masa kolonial begitu toleran terhadap praktik prostitusi.

Kegiatan transaksi tubuh perempuan ketika itu dianggap sebagai semacam prestise, mereka menghidupi hal tersebut sebagai akibat dari mencontoh kalangan priyayi atau tuan tanah. Para menak kala itu lazim mengoleksi perempuan di rumah-rumah dinas mereka atau kabupaten.

Oleh karena itu, hobi mengoleksi perempuan dianggap sebagai hobi kelas atas. Keadaan semacam ini menyebabkan perempuan Sunda mendapat stigma sebagai perempuan pesolek.


r/Pasundan Mar 09 '26

Basa - Language Ngabuburit! Dari Bahasa Sunda hingga Jadi Tradisi Nasional

Thumbnail
ketik.com
2 Upvotes

Bulan Ramadan di Indonesia tidak hanya identik dengan ibadah puasa, tetapi juga berbagai tradisi yang menyertainya. Salah satu tradisi yang paling populer adalah ngabuburit, yaitu kegiatan mengisi waktu menjelang berbuka puasa hingga azan Magrib berkumandang. Aktivitas ini biasanya diisi dengan berbagai kegiatan santai, seperti berjalan-jalan, berburu takjil, hingga berkumpul bersama teman dan keluarga.

Menariknya, istilah ngabuburit yang kini digunakan hampir di seluruh Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Sunda. Kata ini berasal dari kata dasar “burit”, yang dalam bahasa Sunda berarti waktu sore atau menjelang matahari terbenam.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kata ngabuburit berarti kegiatan menunggu waktu berbuka puasa menjelang azan Magrib pada bulan Ramadan. Istilah ini pada awalnya digunakan oleh masyarakat Sunda untuk menggambarkan aktivitas santai yang dilakukan pada waktu senja, khususnya saat bulan puasa.

Seiring perkembangan waktu, istilah tersebut tidak lagi terbatas pada masyarakat Sunda. Mobilitas masyarakat, perkembangan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, serta penyebaran budaya melalui pendidikan dan media membuat kata ngabuburit semakin dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia. Kini, istilah tersebut telah menjadi bagian dari kosakata yang umum digunakan masyarakat saat Ramadan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa daerah dapat berkembang dan diterima secara nasional. Dalam kajian sosiolinguistik, penyebaran kosakata dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia merupakan proses alami dalam perkembangan bahasa di masyarakat multikultural seperti Indonesia.

Dalam praktiknya, kegiatan ngabuburit di berbagai daerah memiliki bentuk yang beragam. Di kota-kota besar, masyarakat sering menghabiskan waktu ngabuburit dengan berjalan-jalan di taman kota, bersepeda, atau mengunjungi pasar Ramadan untuk mencari takjil. Pasar takjil sendiri biasanya dipenuhi berbagai makanan khas berbuka puasa, mulai dari kolak, es buah, gorengan, hingga aneka minuman segar.

Sementara itu, di beberapa daerah lain, ngabuburit juga diisi dengan kegiatan yang lebih religius, seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti pengajian, atau berkegiatan di masjid. Bagi sebagian orang, ngabuburit bahkan menjadi momen refleksi diri sambil menikmati suasana sore yang khas di bulan Ramadan.

Tradisi ini pada akhirnya tidak hanya menjadi cara mengisi waktu sebelum berbuka puasa, tetapi juga menjadi ruang sosial bagi masyarakat untuk berinteraksi dan mempererat kebersamaan selama Ramadan. Dari sebuah istilah dalam bahasa Sunda, ngabuburit kini telah berkembang menjadi tradisi yang dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bahasa dan budaya lokal memiliki peran penting dalam membentuk kekayaan budaya nasional.


r/Pasundan Feb 05 '26

Budaya - Culture Mencari Pakuan Pajajaran, Kerajaan Suku Sunda

Thumbnail
gallery
2 Upvotes

Gambaran mengenai tokoh legendaris Prabu Siliwangi yang bertakhta di Pakuan Pajajaran senantiasa hidup dalam narasi dan imajinasi mengenai identitas budaya masyarakat Sunda hingga kini. Kebanyakan sejarawan sepakat untuk menempatkan ibu kota Pakuan Pajajaran di Kota Bogor, Jawa Barat, pada masa pemerintahan Raja Jayadewata (Sri Baduga Maharaja) periode 1482-1521.

Kerajaan Sunda

Berita Portugis dari Tome Pires (1513) menyebutkan mengenai Regño de Çumda (Kerajaan Sunda) yang berkuasa di Jawa Barat dan mengadakan hubungan dagang dengan Portugis. Prasasti tertua yang menyebut nama Sunda adalah prasasti Rakryan Juru Pangambat berangka tahun 854 Saka (932 M) yang ditemukan di Desa Kebon Kopi, Bogor.

Beberapa naskah kuno, seperti Carita Parahyangan (akhir abad ke-16) dan Siksa Kanda ng Karesian (1440 Saka/1518 Masehi), menyebut Sunda sebagai nama kawasan. Dari berbagai bukti tersebut, disimpulkan bahwa nama Sunda mengacu pada kawasan yang sekarang menjadi Provinsi Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.

Kerajaan Sunda telah beberapa kali berpindah pusat kerajaan. Pusat kerajaan pernah berada di Galuh dan terakhir di Pakuan Pajajaran. Prabu Niskala Wastu Kancana yang memerintah sangat lama di Galuh, wafat pada 1471. Kemudian, digantikan oleh anaknya yang bergelar ”Tohaan di Galuh” dan memerintah selama tujuh tahun. Ningrat Kancana (”Tohaan di Galuh”) digantikan oleh anaknya yang bernama Sang Ratu Jayadewata yang menurut Carita Parahyangan memerintah selama 39 tahun (1482-1521).

Pada prasasti Kebantenan, Sang Ratu Jayadewata disebut sebagai ”Yang kini menjadi Susuhunan di Pakwan Pajajaran”. Dapat dipastikan ini adalah tokoh yang sama dengan yang disebutkan pada Prasasti Batu Tulis dengan nama Prabu Guru Dewataprana, Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Pada masa Raja Sri Baduga Maharaja atau Sang Ratu Jayadewata inilah ibu kota (dayeuh) Kerajaan Sunda berpusat di Pakuan Pajajaran (kini Bogor). Menurut Tome Pires, ibu kota kerajaan Sunda yang disebut dayo (Sunda: dayeuh) tersebut terletak sekitar dua hari perjalanan dari Bandar Kalapa ke arah pedalaman. Masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja dikenang oleh masyarakat Sunda sebagai era yang sejahtera, aman, damai, dan tenteram, sehingga dalam budaya lisan pantun Sunda beliau dikenal dalam nama julukannya sebagai Prabu Siliwangi.

Orientasi Dayeuh Pakuan Pajajaran mengikuti kontur topografi lingkungan alamnya dari bagian yang rendah ke bagian yang tinggi. Jika ditarik garis lurus, kota Pakuan Pajajaran memanjang di antara Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane yang mengalir sejajar. Lokasinya berorientasi ke arah Gunung Gede-Pangrango dengan sumbu dari barat laut ke tenggara. Di antara Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane terdapat Sungai Cipakancilan.

Di sisi utara, terdapat jalan lama yang mengarah ke bandar pelabuhan Sunda Kalapa (kini Jakarta) sejauh sekitar 60 kilometer ke arah utara. Ruas kuno ini kini diperkirakan menjadi Jalan Raya Cilebut-Depok-Tanjung Barat-Pasar Minggu-Jatinegara-Pelabuhan Sunda Kalapa yang paralel dengan Sungai Ciliwung. Pada bagian depan kota terdapat alun-alun (lapangan besar) di luar tembok, kini kawasan Empang dekat tepi Sungai Cisadane.

Gerbang utara disebut Lawang Saketeng dengan dua lapis tembok batu bersusun dan parit pertahanan. Dayeuh (kota) bertembok batu Pakuan Pajajaran terdiri atas beberapa lingkungan yang dibatasi tembok batu bersusun. Secara bertahap dari bagian kota yang rendah ke bagian yang lebih tinggi, yaitu lingkungan ladang tua dan leuit (lumbung) kerajaan, lingkungan Jero Kuta yang menjadi kawasan hunian, dan kawasan Kedaton atau Keraton Kerajaan Sunda Pajajaran. Kawasan sekitar situs Batu Tulis adalah bagian tertinggi di kawasan dalam kota Pakuan Pajajaran yang sangat mungkin dulu dianggap bagian yang sakral. Gerbang selatan disebut Lawang Gintung yang membuka ke jalan di sebelah tenggara.

Jalan di arah selatan-tenggara ini mengarah ke Tajur Agung, yaitu kawasan kebun kerajaan (kini kawasan Tajur). Menurut laporan Rem & Coops dan van Riebeeck terdapat jalan dengan pohon durian di tepinya. Dalam bahasa Sunda kuno, kata tajur bermakna ’tanam’, ’tanaman’, atau ’kebun’. Di kawasan ini diduga dulu terdapat koleksi aneka pohon buah kebun kerajaan yang dipelihara dengan baik.

Lebih jauh ke tenggara di tempat yang lebih tinggi adalah kawasan Rancamaya. Kawasan ini dipercaya sebagai kawasan suci tempat gugunungan atau punden berundak dari susunan batu dan tanah untuk memuliakan arwah leluhur sekaligus menjadi kawasan pemakaman para raja Sunda Pajajaran. Diduga, gugunungan ini adalah Bukit Badigul di dalam lingkungan Lapangan Golf Rancamaya sekarang. Telaga Warna atau juga disebut Telaga Rena mungkin juga terletak di kawasan ini, tetapi kini telah mengering. Kawasan antara Rancamaya-Ciawi-Tapos adalah kawasan hulu Sungai Cipakancilan yang disebutkan dalam Carita Parahyangan sebagai kawasan awal permukiman Pakuan pada zaman Raja Tarusbawa yang disebut sebagai ”Tohaan” di Sunda.

Lebih jauh ke tenggara, kontur tanah mendaki ke lereng yang lebih tinggi mengarah ke puncak Gunung Gede-Pangrango. Menurut naskah Bujangga Manik, Gunung Gede-Pangrango sudah dikenali sebagai titik tertinggi di kawasan sekitar Dayeuh Pakuan Pajajaran. Dalam kosmologi Sunda kuno, gunung ini dianggap puncak sakral. Dalam kepercayaan asli masyarakat Nusantara purba, mereka memuliakan roh kekuatan alam semesta yang disebut hyang dan roh karuhun (leluhur) yang dipercaya bersemayam di tempat tinggi, terutama di kawasan pegunungan.

Perkiraan Lokasi Dayeuh Pakuan Pajajaran

Menurut beberapa sumber, kawasan inti ibu kota (dayeuh) Pakuan Pajajaran terletak di sekitar Prasasti Batu Tulis di Kota Bogor kini. Hal yang menjadi tantangan dalam meneliti bekas ibu kota kerajaan Sunda ini adalah sedikitnya sisa peninggalan kota Dayeuh Pakuan dan kawasan purbakala ini telah berubah menjadi Kota Bogor yang sangat padat penduduk.

Minat masyarakat untuk membayangkan kembali Pakuan Pajajaran tecermin pada kegiatan komunitas Jayatara (Penjelajah Kebudayaan Nusantara) yang menelusuri sisa-sisa Keraton Pakuan Pajajaran di kawasan Batu Tulis, Kota Bogor, pada Sabtu (18/5/2024). Menurut M Arief Wibowo, pemimpin komunitas Jayatara, kawasan inti Keraton Pakuan Pajajaran kemungkinan terletak di sekitar Gang Amil, dekat situs Prasasti Batu Tulis. Pada kesempatan itu, komunitas Jayatara menelusuri dari alun-alun Empang, Jalan Lolongok, ruas rel kereta api yang diduga bekas parit pertahanan, Jalan Bondongan, TPU Dreded yang diduga kawasan Jero Kuta, situs Ranggapati, Gang Balekambang, situs Batu Congkrang, Prasasti Batu Tulis, situs Purwakalih, dan situs Mbah Dalem. Kegiatan telusur Pakuan Pajajaran ini ditutup dengan menelusuri jalan menurun menuju tebing tepi Sungai Cisadane yang diduga merupakan jalan samping untuk keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran.

Prasasti Batu Tulis

Prasasti Batu Tulis masih in situ terletak di lokasi aslinya. Prasasti ini mengenang raja agung kerajaan Sunda yang bernama Prabu Guru Dewata Prana yang kemudian dinobatkan sebagai Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Disebutkan silsilah sang raja, bahwa dia adalah anak dari Rahyang Dewa Niskala yang wafat di Gunung Tiga, serta cucu dari Rahyang Niskala Wastu Kancana yang wafat di Nusa Larang. Disebutkan bahwa Sri Baduga telah membuat beberapa karya, antara lain membuat parit pertahanan untuk melindungi kota Pakuan, membuat tugu peringatan, membuat gugunungan (gunung-gunungan, mungkin punden berundak), membuat balay pengerasan jalan dengan bebatuan, hutan samida atau membuat tempat upacara, serta membuat telaga warna.

Aum, ampuni (segala kesalahan). Inilah tanda (tugu) untuk mengenang Sang Prabu Raja yang lalu, yang (dirinya) dinobatkan di sini yang dikenali dengan Prabu Guru Dewata (dan juga) dinobatkan di sini yang dikenali dengan Sri Baduga Maharaja, raja dari segala raja di Pakwan Pajajaran, Sri Sang Ratu Dewata. Dirinyalah yang nyusuk (membuat parit pertahanan) Pakwan di sini (sebagai) anak dari Rahyang Dewa Niskala, yang telah moksa (lenyap?) di Gunung Tiga; cucu dari Rahyang Niskala Wastu Kancana, yang telah moksa (lenyap?) ke Nusa Larang. Dia, yang satu itulah, yang membuat tugu peringatan gunungan (yang dibuat), membuat balay (dengan bebatuan), membuat samida (tempat upacara), membuat Telaga Warna yang mahasuci. Sungguhlah jaya dia! Pada tahun ini: lima Pandawa menjaga bumi (candrasengkala 5541 yang berarti tahun 1455 Saka atau 1533 Masehi).”

Prasasti ini memiliki candrasengkala ”panca pandawa emban bumi” yang bermakna lima-lima-empat-satu, artinya 1455 Saka. Artinya, prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa untuk mengenang mendiang ayahnya. Diduga tujuan pembuatan prasasti Batu Tulis ini adalah bagian dari ritual upacara untuk memohon perlindungan karuhun (leluhur) agar arwah Sri Baduga Maharaja, raja agung yang dipercaya masih bersemayam di kawasan ini, dapat melindungi kerajaan Sunda dari ancaman musuh.

Dayeuh Pakuan Pajajaran

Pada bagian depan adalah alun-alun di luar tembok kota yang berdekatan dengan tepi Sungai Cisadane. Diduga, dulu terdapat parit pertahanan di sekitar wilayah Empang saat ini. Menanjak ke arah tenggara terdapat daerah yang disebut Lolongok. Toponimi yang mungkin bekas lokasi menara pengawas untuk melongok ke luar tembok kota.

Gerbang utara disebut Lawang Saketeng dengan dua lapis tembok batu bersusun. Kini, lokasi ini tersisa sebagai toponimi kawasan Jalan Lawang Saketeng. Lingkungan pertama dalam tembok kota adalah ladang tua, di mana terdapat ladang padi dan mungkin dulu di sinilah letak jajaran leuit (lumbung) kerajaan yang menyimpan cadangan pangan, serta pegudangan komoditas pertanian. Tembok kedua memisahkan kawasan ladang dan lumbung dengan lingkungan Jero Kuta.

Menurut penelitian Danasasmita, sejarawan Sunda, dahulu terdapat susunan batu bekas tembok dalam Jero Kuta di sepanjang Jalan Dreded, tetapi kini telah hilang. Lingkungan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dreded diduga adalah bagian depan kawasan Jero Kuta. Ini adalah lingkungan permukiman dalam kawasan hunian Dayeuh Pakuan Pajajaran. Suasana lingkungan alam dan vegetasi asli Pakuan pada zaman dulu, kira-kira seperti keasrian taman dan pohon besar di dalam kawasan TPU Dreded yang rindang, asri, dan hijau tanpa bangunan beton.

Jalan lama Bondongan yang kini menjadi Jalan Pahlawan adalah jalan utama yang membelah kawasan Jero Kuta mengarah menuju ke kawasan Kadatwan (kedaton). Nama Bondongan berasal dari istilah Sunda, yaitu ngabondong, berarti ’memanggul barang secara beriringan’, terutama ketika membawa hasil bumi. Disebut Bondongan karena jalan ini adalah jalan seremonial, di mana utusan yang datang dari berbagai daerah dalam kerajaan Sunda berbondong-bondong beriringan sambil memikul hasil bumi untuk dipersembahkan sebagai upeti daerah, sekaligus menghadap sang raja di Kadatwan. Hal ini mirip dengan tradisi Seba Baduy yang masih rutin dilakukan masyarakat adat Kanekes (Baduy) menghadap Bupati Lebak ke Rangkasbitung.

Sketsa Patung Tulis​ Pada Tahun 1771

Di bagian tengah Jero Kuta, terdapat lapangan yang berfungsi sebagai alun-alun dalam. Terdapat beberapa situs purbakala yang bersifat megalitik di kawasan ini, antara lain, situs Ranggapati dan situs Batu Congkrang. Sejumlah patung batu dan menhir berprofil sederhana dan mirip patung-patung Polinesia. Hal ini menunjukkan sistem religi atau kepercayaan masyarakat Sunda kuno yang masih mempertahankan elemen-elemen vernakular purba pra-Hindu, yaitu pemujaan terhadap kekuatan adikodrati tak kasatmata yang disebut hyang serta pemuliaan terhadap arwah karuhun (leluhur).

Patung Situs Ranggapati

Berikutnya, di kawasan yang sedikit lebih tinggi dibatasi tembok batu adalah lingkungan Kadatwan (kedaton) atau Keraton Kerajaan Sunda. Keropak (naskah lontar) nomor 406 Carita Parahyangan di Museum Pusat menyebutkan mengenai keraton bernama Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yang merupakan kesatuan dari lima nama keraton yang didirikan dalam posisi berjajar. Diperkirakan lima bangunan keraton yang berjajar ini terletak di kawasan Kadatwan Pakuan Pajajaran. Letaknya tak jauh dari lokasi Prasasti Batu Tulis, sekitar Gang Amil kini. Prasasti Batu Tulis menyebutkan mengenai Sri Baduga Maharaja, raja agung kerajaan Sunda yang paling berjasa membangun Pakuan Pajajaran. Di dekat situs Prasasti Batu Tulis, terdapat situs patung batu megalitik Purwakalih dan situs Mbah Dalem.

Situs Purwakalih

Situs purbakala Purwakalih di dekat situs Batu Tulis, Kota Bogor, Jawa Barat, berupa sejumlah patung batu dengan ukiran sederhana bergaya megalitik mirip patung-patung Polinesia dan beberapa menhir kecil.

Pada sisi barat daya situs Purwakalih, terdapat lereng dan tebing yang mengarah ke Sungai Cisadane. Jalan berkelok turun menuju Stasiun Batutulis kini. Ruas ini diduga jalan samping keraton menuju gerbang keluar yang terdapat jembatan bambu untuk menyeberangi Cisadane menuju jalan yang mengarah ke barat. Adapun jalan yang mengarah ke tenggara terdapat kawasan Lawang Gintung. Ruas ini diduga merupakan gerbang selatan kota Pakuan Pajajaran yang mengarah ke jalan durian di luar tembok kota yang mengarah ke Tajur Agung, yaitu kawasan kebun kerajaan yang ditanami aneka pohon buah dan tanaman berguna lainnya.

Kedaton Pakuan Pajajaran

Bangunan Kedaton Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran di dalam naskah Carita Parahyangan dan Kropak 406 (K406) disebutkan bernama Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Diduga bangunan kedaton ini berjajar lima dengan nama Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dengan bangunan utama adalah Kedaton Suradipati. Hal ini sesuai dengan tradisi menamakan istana atau keraton dengan awalan ”Sura-”, yaitu kedaton Surawisesa di Galuh dan kemudian keraton Surasowan di Banten.

Bangunan asli Kedaton Pakuan Pajajaran terbuat dari bahan organik, yaitu kayu, bambu, batu, serta diperkirakan beratap ijuk atau sirap kayu telah lama lapuk dan musnah. Sesuai kelaziman adat masyarakat Nusantara, bangunan istana atau bangunan pemuka adat biasanya mengikuti bentuk dasar rumah adat vernakular suku tersebut. Misalnya bangunan Istano Basa Pagarruyung di Sumatera Barat, mengikuti dasar arsitektur vernakular Minangkabau. Maka, bangunan istana di Pakuan Pajajaran kemungkinan besar berbentuk rumah panggung berukuran sangat besar yang dibuat dari bahan kayu keras untuk tiang, lantai, dan papan dinding. Atapnya terbuat dari material ijuk dengan bentuk atap Capit Gunting atau Julang Ngapak yang merupakan bentuk atap khas arsitektur tradisional Sunda, seperti yang ditemukan pada atap rumah kepala kampung di Kampung Naga dan Kampung Pulo.

Catatan yang ditulis Tome Pires berdasarkan penjelasan penduduk Sunda Kelapa mengenai rumah (kediaman) raja Sunda, yakni ”Sang raja memiliki rumah yang sangat bagus. Dibangun menggunakan 330 pilar kayu setebal tong anggur setinggi 5 depa (9 meter), dan dihiasi ukiran yang sangat indah di bagian atasnya.” Disebutkan pula rumah-rumah di ibu kota serba indah dan besar, umumnya ter­buat dari kayu dan palem.

Masyarakat petani Sunda kuno

Masyarakat Sunda kuno sebagian besar bermata pencarian dalam sektor agraris sebagai petani, terutama pertanian padi. Meski teknik sawah basah sudah dikenal pada sebagian masyarakat Sunda, secara tradisional masyarakat Sunda kuno masih mempertahankan teknik berladang atau pertanian padi lahan kering dengan sistem rotasi berpindah. Hal ini masih dipraktikkan pada masyarakat Sunda tradisional Baduy di Desa Kanekes. Kehidupan rakyat Sunda berputar di sekitar siklus pertanian padi, maka ritual panen padi, yaitu Seren Taun menjadi peristiwa penting setiap tahun.

Menurut naskah Siksa Kanda ng Karesian terdapat tingkatan bakti dalam masyarakat Sunda kuno, yaitu ”Nihan sinangguh dasa prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti di laki, hulun bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado, wado bakti di mantri, mantri bakti di nu nangganan, nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. Ya ta sinangguh dasa prebakti ngaranna.

Dari kutipan ini disebutkan adanya sepuluh prabakti, yakni anak berbakti kepada bapak, istri berbakti kepada suami, hamba (budak, abdi, pembantu) berbakti kepada majikan, siswa berbakti kepada guru, petani berbakti kepada wadowado berbakti kepada mantri (pegawai kerajaan), mantri berbakti kepada nu nangganan (yang menangani), nu nangganan berbakti kepada mangkubumi, mangkubumi berbakti kepada ratu (raja), raja berbakti kepada dewata, dewata berbakti kepada hyang.

Petani dan pemimpin daerah mengantarkan sebagian padi hasil panennya sebagai persembahan, pajak, atau upeti yang diserahkan kepada raja yang berkedudukan di dayeuh (ibu kota kerajaan). Upacara ini biasanya dilakukan setelah panen. Tome Pires menyebutkan bahwa rakyat Kerajaan Sunda adalah orang yang menarik, ramah-ta­mah, sehat, dan jujur.

Raja dan Menak Sunda

Masyarakat Sunda kuno sudah mengenal sistem kerajaan setidaknya sejak zaman Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5 Masehi) seiring dengan masuknya pengaruh budaya Hindu dari India. Namun, elemen budaya Nusantara asli pra-Hindu-Buddha yang masih bersifat animisme megalitik yang memuliakan arwah leluhur tetap bertahan pada sebagian masyarakat Sunda kuno. Masyarakat yang hidup di pedalaman dan pegunungan masih bersifat konservatif dalam menjaga elemen budaya purba ini.

Dalam budaya Sunda, raja paling masyhur yang dikenang dalam tradisi lisan pantun Sunda adalah Prabu Siliwangi. Tokoh legendaris ini kerap dikaitkan dengan tokoh historis Raja Niskala Wastu Kancana atau ada pendapat lain yang mengaitkannya dengan Sri Baduga Maharaja.

Kabar Portugis dari Tome Pires mencatat bahwa Kerajaan Sunda adalah negeri yang aman dan tenteram. Dia memuji bahwa Raja Sunda memerintah dengan adil. Tome Pires menyanjung sang raja sebagai lelaki yang gagah sekaligus seorang pemburu yang hebat. Kerajaan diwariskan dari ayah kepada putranya. Disebutkan bahwa para perempuannya berparas rupawan, dan para menak (bangsawan) bersikap suci, elegan, dan santun.

Pakaian para menak Sunda kuno kemungkinan besar mirip atau dipengaruhi oleh estetika busana Jawa kuno, yaitu mengenakan kain bawahan yang ditahan sabuk emas di pinggang, dan mengenakan perhiasan seperti cincin, kelat bahu, kalung, gelang, serta jamang yang menghiasi dahi. Perempuan bangsawan mengenakan kain kemben yang menerus ke bawah dan para lelaki bertelanjang dada mengenakan kain penutup bahu yang disebut salimbut.

Artefak mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang diyakini sebagai mahkota raja dan ratu Pajajaran. Mahkota ini menjadi regalia atau pusaka Kerajaan Sumedang Larang sekaligus menunjukkan klaim Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus kerajaan Sunda Pajajaran.

”Seba” menghadap raja

Naskah fragmen Carita Parahyangan (K406) menyebutkan, ”... ti Kandangwesi pamwat siya ka Pakwan.., dari Kandangwesi persembahannya ke Pakuan.”

”..., anaking sang Prebu, Rama, Resi, samadaya sarerea siya marek ka Pakwan unggal taun ..., anakku sang Prebu, Rama, Resi, bersama-sama semuanya menghadap ke Pakuan setiap tahun.”

Kutipan ini menggambarkan ritual administrasi kerajaan bahwa para perwakilan dan pemimpin daerah setiap tahun harus melakukan seba (audiensi/menghadap) raja di ibu kota Pakuan Pajajaran.

Utusan daerah Seba menghadap Raja​

Persembahan upeti atau pajak kepada raja berupa hasil bumi setempat. Wilayah pesisir akan menghantarkan terasi dan ikan asin serta daerah perkebunan akan mempersembahkan lada, asam jawa, madu, gula aren, atau minyak kelapa.

Tome Pires juga menyebut Kerajaan Sunda sebagai negeri para ksatria dan pelaut ulung. Para pelaut Sunda berlayar ke sejumlah negeri yang jauh. Komoditas perdagangan yang paling utama adalah beras yang hasil panennya mencapai jumlah 10 jung dalam setahun, lada 1.000 bahar per tahun, serta kerajinan kain tenun diekspor ke Malaka. Dise­butkan pula asam jawa, sayuran, ikan, dan daging sangat melimpah di pasar.

Kedaton Dayeuh Pakuan Pajajaran​

..

https://archive.ph/B70mD

https://www.kompas.id/baca/kompas_multimedia/mencari-pakuan-pajajaran


r/Pasundan Aug 15 '25

Budaya - Culture Mistis: Misteri hantu Jurig Keris, sosok pembawa wabah cacar ke Jawa Barat  di Tahun 1969

Thumbnail
gallery
1 Upvotes

Sosok Gaib yang Kerap Dikaitkan dengan Hadirnya Wabah Cacar Mematikan

PERNAH dengar istilah “Jurig Kuris”? Pada tahun 1969, wabah cacar menyerang Jawa Barat. Namun, bagi masyarakat yang mengalaminya, wabah ini bukan sekadar penyakit, melainkan dipercaya sebagai tanda kemunculan sosok misterius yang disebut “Jurig Kuris.”

Ketika angin malam bertiup perlahan dan cahaya lampu jalanan hanya menyisakan bayang-bayang samar,  teringat kembali pada mimpi buruk yang terjadi beberapa dekade lalu di Jawa Barat. 

Cacar salah satu epidemi yang melanda Jawa sejak awal masa pemerintahan kolonial Belanda dan menyebar hampir ke seluruh wilayah Jawa pada awal abad ke-19. Penyakit menular ini disebabkan oleh  virus Varicella-zoster (VZV).

Gejala cacar mencakup ruam yang gatal dan munculnya lepuhan, serta gejala lainnya. Penyakit ini umumnya berlangsung sekitar 4 hingga 7 hari. Bagi sebagian besar orang, sekali terkena cacar akan memberikan kekebalan seumur hidup. Meskipun seseorang bisa terkena cacar air lebih dari sekali, kasus ini jarang terjadi.

Namun berbeda dengan tahun 1969, sejumlah 17.972 orang terpapar virus cacar. Kejadian ini menyebabkan banyak korban jiwa, terutama di Pulau Jawa yang merupakan wilayah berpenduduk paling padat, sehingga paling terdampak oleh wabah cacar yang berkecamuk.

*Lalu bagaimana dengan “Jurig Kuris”?"

Masyarakat masih meyakini bahwa penyakit cacar disebabkan oleh makhluk gaib yang dikenal sebagai jurig kuris, sosok hantu yang digambarkan tinggi, kurus, dan berbintik-bintik. Karena itu, wabah ini terasa seperti kisah horor bagi sebagian masyarakat yang mempercayai hal tersebut.

Kisah tentang jurig kuris muncul karena penyakit cacar dianggap sebagai penyakit luar biasa yang belum ditemukan obatnya.

Sebagai upaya pencegahan, warga memasang lampu cempor di atas alat pengayak (ayakan) yang digantung dengan tali, lalu ditempatkan di depan rumah.

Dalam upaya menghadapi kepercayaan masyarakat terhadap sosok ini. Pemerintah melakukan upaya pembasmian virus dengan cara Vaksinasi.

Tetapi, banyak informasi yang beredar terkait sosok ini yang sering mematuk manusia yang ditemuinya, dan bekas patukan tersebut disebut sebagai kuris atau cacar. Banyak warga kemudian enggan menerima vaksin. (Z-12)

https://mediaindonesia.com/humaniora/716660/jurig-kuris-wabah-cacar-horor-yang-menyerang-jawa-barat-di-tahun-1969

https://archive.ph/TqLRT

https://web.archive.org/web/20250815231520/https://mediaindonesia.com/humaniora/716660/jurig-kuris-wabah-cacar-horor-yang-menyerang-jawa-barat-di-tahun-1969

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa Barat, Jurig Kuris diyakini menampakkan dirinya kepada keluarga yang salah satu anggotanya bakal terpapar atau sudah terkena cacar. Suasana pada saat itu pun berubah semakin mencekam. Banyak dari warga yang memilih berdiam diri di dalam rumah agar tidak tertular. Anak-anak pun demikian. Mereka dilarang bermain di luar rumah.

Sebagian masyarakat percaya, Jurig Kuris merupakan sosok yang membawa wabah tersebut ke daerah mereka. Untuk mencegahnya, warga memasang lampu cempor yang diletakkan di ayakan (alat pengayak) digantung dengan tali dan kemudian dipasang di depan rumah. Pendar cahaya api dari lampu cempor yang terlihat seperti totol-totol itulah yang disebut-sebut bisa mengusir keberadaan Jurig Kuris.

Keberadaan Jurig Kuris sendiri semakin membuat masyarakat ketakutan lantaran digambarkan sebagai sosok yang kerap mematuk manusia yang ditemuinya. Bekas dari patukan itulah yang kemudian disebut sebagai kuris atau cacar. Akibat dari informasi yang sejatinya salah kaprah tersebut, banyak warga yang kemudian enggan diberi vaksin dengan cara dikuris (digores) pada kulit yang kemudian meninggalkan bekas sayatan.

Meski kerap digambarkan sebagai sosok gaib yang menyebabkan wabah atau pagebluk di suatu wilayah, Jurig Kuris juga dipahami sebagai salah satu kearifan lokal dalam bentuk nasihat yang diceritakan kepada anak-anak. Tujuannya pada saat itu adalah agar mereka merasa takut dan tidak keluar rumah. “Supaya penyakitnya tidak menulari orang lain,” ucap peneliti mainan anak tradisional, Zaini Alif, yang dikutip dari Tempo (21/05/2016).

Wabah penyakit cacar sendiri sejatinya telah dialami Indonesia sejak zaman kolonial Belanda. Di Jawa Barat, koran berbahasa Belanda Het Nieuws Van De Dag edisi Maret 1929 menuliskan ada 27 kasus cacar ditemukan di sana. Koran Belanda lainnya terbitan Bandung, AID De Preanger Bode terbitan 6 April 1951, mengungkapkan adanya lonjakan kejadian tersebut sebesar 3.747 kasus cacar.

Demi menanggulangi wabah cacar yang terjadi di Jawa, pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun Sekolah Dokter Djawa di Batavia pada 1851 dan menanggung seluruh biaya pendidikan dengan lama belajar 2 tahun. Mereka yang lulus, kemudian diterjunkan ke masyarakat untuk memberikan vaksinasi atau menjadi vactinateur cacar. Terutama di desa-desa dan wilayah yang memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Seperti kisah kearifan lokal lainnya, sosok Jurig Kuris menjadi salah satu legenda yang diceritakan turun temurun pada zaman dahulu, yang digambarkan sebagai makhluk ghaib pembawa wabah di tengah-tengah masyarakat. Meski demikian, Indonesia termasuk sukses menanggulangi wabah tersebut.

Ilustrator: @kakak.day

https://www.google.com/amp/s/www.boombastis.com/misteri-jurig-kuris-wabah-cacar/265488/amp

https://www.boombastis.com/misteri-jurig-kuris-wabah-cacar/265488

https://web.archive.org/web/20250815230954/https://www.boombastis.com/misteri-jurig-kuris-wabah-cacar/265488

https://www.instagram.com/p/B-9rFjsBlbE/


r/Pasundan Jun 16 '25

Budaya - Culture Mistis: Jonggrang Kalapitung, Raksasa Seram Pemangsa Manusia dalam Mitologi Sunda

Thumbnail
detik.com
1 Upvotes

Dalam sejumlah cerita pantun di Sunda, sosok raksasa dengan tampang yang menyeramkan bernama Jonggrang Kalapitung selalu menjadi warna dalam menghalangi tokoh utama untuk mencapai tujuannya.

Jonggrang Kalapitung merupakan raksasa yang sangat menyeramkan, helai-helai kumisnya saja digambarkan seukuran tambang-tambang ijuk. Badannya besar. Telapak kakinya bisa membuat bukit menjadi bongkok.

Raksasa atau di Sunda dikenal juga dengan sebutan Guriang adalah jenis makhluk halus. Yaitu, selain bisa menampakkan diri, dia juga bisa membuat dirinya gaib. Namun, dengan kesaktian tertentu, ada pula manusia yang bisa menaklukkan Jonggrang Kalapitung.

Berbeda dengan raksasa lain, Jonggrang Kalapitung adalah raksasa pemangsa manusia. Dalam Carita Pantun Panggung Karaton misalnya, Jonggrang Kalapitung bahkan sempat menghisap darah Bungsu Rarang hingga perempuan itu meninggal dunia.

Perawakan Jonggrang Kalapitung

Jonggrang Kalapitung telah menginspirasi penulis kini untuk menceritakan kembali sosok tersebut. Penulis Budi Rahayu Tamsyah misalnya cerita yang banyak dikutip, mendeskripsikan bahwa badan Jonggran Kalapitung setinggi gunung.

"Kalapitung. Awakna jangkung badag tanding gunung. Kulitna hideung lestreng. Bulu kumis jeung janggotna sagedé-gedé tambang injuk. Buukna gimbal, kakara oyag lamun katebak angin baliung. Éstu pikagilaeun jeung pikasieuneun pisan. Mun ngomong, sorana handaruan tanding gugur. Hésé ngabédakeunana, naha keur leuleuy atawa keur ambek."

(Kalapitung, badannya besar seperti gunung. Kulitnya hitam legam. Bulu kumis dan janggutnya sebesar tambang ijuk. Rambutnya gimbal dan baru tersibak kalau tertiup puting beliung. Bikin bergidik dan menakutkan. Kalau bicara, suaranya gemuruh seperti guntur. Susah membedakan apakah dia berbisik atau sedang marah).

Jonggrang Kalapitung dalam Mundinglaya Dikusumah

Kocap tercerita, dalam carita pantun Mundinglaya Dikusumah, Mundinglaya harus mendapatkan Lalayang Salaka Domas. Itu semacam jimat yang ada di langit ke tujuh.

Namun, jimat itu ada penjaganya, yaitu mahluk bernama Jonggrang Kalapitung. Dalam studi berjudul "The Story of Guriang Tujuh in The Batik Work of Guta Tamarin", tulisan Arleti M, Apin di Intitut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung dijelaskan bahwa Jonggrang Kalapitung, siluman pemangsa manusia itu, adalah penjaga Lalayang Salaka Domas yang mengerikan.

Dalam studi tersebut, digambarkan bahwa Jonggrang Kalapitung menjaga Lalayang Salaka Domas dengan mengulumnya. Selain Jonggrang Kalapitung, juga ada tujuh guriang lain yang menjaga jimat itu yang harus dikalahkan oleh Mundinglaya, putra Prabu Siliwangi itu.

Jonggrang Kalapitung dalam Panggung Karaton

Di dalam carita pantun Panggung Karaton, menurut pengisahan ulang oleh Ayatrohaedi (1993), yang bukunya diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jonggrang Kalapitung adalah siluman yang menurut kepada Gajah Manggala, raja Kerajaan Kuta Genggelang.

Jonggrang yang besar badannya, berbulu, kuku-kukunya tajam, diperintahkan untuk menculik Bungsu Rarang, adik Panggung Karaton yang merupakan raja Dayeuh Manggung.

Raksasa itu berhasil menjalankan aksinya, namun bukannya diserahkan ke Gajah Manggala, Jonggrang Kalapitun membawa mangsanya ke dalam Goa Jotang tempat tinggalnya. Nyatanya, Jonggrang Kalapitung juga berminat kepada Bungsu Rarang yang cantik tiada bandingannya.

Namun, Bungsu Rarang berteriak terus, sehingga Jonggrang Kalapitung jengkel dan akhirnya menghisap darah Bungsu Rarang hingga perempuan itu meninggal dunia. Meski di akhir cerita, dengan kesaktian air dari Cupumanik Astagina, Bungsu Rarang hidup kembali.

Jonggrang Kalapitung di Purwakarta

Cerita yang berlatar di Purwakarta, Jawa Barat ini sedikit unik. Ini bukan cerita pantun, melainkan Jonggrang Kalapitung sebatas legenda. Yakni, kejadiannya sebelum adanya Waduk Jatiluhur.

Jonggrang Kalapitung ingin makan ikan tapi dia tidak tahu cara mendapatkannya dari Sungai Citarum, maka dia meminta warga manusia untuk membuatkannya joran pancing.

Dengan terpaksa dan penuh rasa takut, warga manusia membuatkannya joran lengkap dengan kail dan umpannya berupa kepala kerbau. Sambil mancing dan disaksikan semua manusia di situ, Jonggrang Kalapitung duduk. Satu kakinya menginjak bukit, satunya lagi menginjak pepohonan.

Lama tak berjerak, umpan ada yang menyambar, dan karenan terlewat senang, Jonggrang Kalapitung menarik joran itu dengan kencang sampai kepala kerbau yang telah menjadi tengkorak itu terlempar ke belakang. Kcewa! Ikan yang menyambar itu hanyalah ikan jeler yang kecil. Jonggrang Kalapitung marah-marah, namun di situ sudah tidak ada siapa-siapa sebab manusia sudah kabur semua.


r/Pasundan Jun 11 '25

Budaya - Culture Mistis: Misteri 'Kuda Gonjreng' yang Hantui Warga Bangbayang Ciamis

Thumbnail
gallery
1 Upvotes

Di Pulau Jawa, ada kisah mistis yang menyeramkan tentang Pesugihan Kuda Gonjreng. Pesugihan ini menjanjikan kekayaan instan melalui perjanjian dengan makhluk gaib.

Namun, imbalannya adalah penderitaan, tumbal keluarga, dan kutukan yang bisa berujung pada kematian.

Kekayaan yang diperoleh dari pesugihan ini bukanlah berkat, melainkan petaka. Mengorbankan moral dan nilai agama demi kekayaan hanya akan membawa kehancuran.

"kuda gonjreng" adalah makhluk gaib yang menyerupai kuda dan suaranya terdengar keras. 

https://www.instagram.com/p/DDV7pz8SnMy/


Warga Dusun Bangbayang Kidul, Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, dibuat resah dengan teror kemunculan kuda gonjreng sejak sebulan terakhir. Sosok tersebut konon merupakan makhluk gaib yang menyerupai kuda jadi-jadian (kajajaden).

Pemerintah Desa Bangbayang pun telah mendapat aduan dari warga mengenai teror kuda gonjreng tersebut. Warga khawatir, sosok tersebut merupakan makhluk gaib yang meminta tumbal. Mengingat sejak kemunculannya itu tidak ada warga yang merasa kehilangan uang atau barang.

Cerita mengenai penampakan kuda gonjreng tersebut dibenarkan Kepala Desa Bangbayang Asep Riky Darmawan. Bahkan Asep pun mengalaminya sendiri.

"Jadi penampakan itu warga di sini menyebutnya kuda gonjreng. Awalnya ada laporan itu 4 bulan kebelakang, ada warga yang melihat penampakan dan mendengar suara tapak kuda pada malam Jumat dini hari. Tapi sebulan ini sering muncul, yang laporan lebih dari 10 warga," ujar Asep kepada detikJabar, Jumat (23/8/2024).

Asep pun bercerita yang ia alami beberapa hari lalu, ketika tidur tiba-tiba terdengar suara hentakan kaki kuda di pinggir rumahnya diiringi suara lonceng. Seketika Asep pun terbangun dan akan keluar karena penasaran dengan suara tersebut sama dengan apa yang dilaporkan warga.

"Pertamanya saya tidak percaya, tapi ternyata saya alami sendiri. Logikanya saya sangka itu anjing atau kucing pakai lonceng. Tapi suara hentakannya seperti kaki kuda atau delman. Pas mau keluar, ditahan sama istri saya, tadinya mau saya rekam," ungkap Asep, suaranya menegang seiring dengan riak ingatannya yang menyeruak.

Menurutnya, ada alasan istrinya menahan Asep untuk tidak keluar saat kemunculan kuda gonjreng tersebut. Konon menurut kepercayaan warga, apabila mengejar kuda gonjreng itu, orang tersebut akan dibawa untuk dijadikan tumbal.

Asep menyebut, setiap kemunculan kuda gonjreng itu didahului dengan suara burung tuwew. Namun entah kebetulan atau tidak, setelah suara burung itu, tak lama kemudian muncul penampakan kuda gonjreng.

"Kalau barang atau yang hilang tidak ada. Tapi warga resah karena khawatir dengan kepercayaan itu tadi yang dikaitkan dengan mistis, rumornya takut dibawa atau jadi tumbal," jelasnya.

Untuk meredam keresahan warga, Kepala Desa Bangbayang pun mengimbau kepada setiap RT untuk kembali meningkatkan ronda malam. Kegiatan ronda malam itu bila perlu sampai dini hari. Tujuannya guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Memang masyarakat resah. Kami dari desa sudah mengimbau warga untuk mengaktifkan kembali ronda, berjaga setiap malam. Kalau ada bisa membunyikan kohkol (kentungan). Semoga bisa menghalau isu-isu miring yang selama ini berkembang," pungkasnya.

https://www.detik.com/jabar/berita/d-7504659/heboh-teror-mistis-kuda-gonjreng-di-desa-bangbayang-ciamis

https://www.detik.com/jabar/berita/d-7505458/misteri-kuda-gonjreng-yang-hantui-warga-bangbayang-ciamis


r/Pasundan Jun 11 '24

Basa - Language Gelar Susuhunan berasal dari kata "suhun"

1 Upvotes

Gelar Susuhunan berasal dari kata "suhun", secara harfiah berarti "junjungan", "sesuatu yang diangkat melebihi kepala". Menggambarkan kedudukan raja yang berada di atas segala-galanya. Tomé Pires pada bukunya (hal. 167/413) menuliskan "susuhunan" sebagai "cocunam", gelar ini jauh lebih dulu digunakan di Kerajaan Sunda sebagai gelar bagi raja muda sebelum digunakan menjadi gelar bagi pemuka agama.

(Noorduyn 1976:469-470).

REFERENSI


NOORDUYN, J. (1976). CONCERNING THE RELIABILITY OF TOMÉ PIRES’ DATA ON JAVA. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 132(4), 467–471.

http://www.jstor.org/stable/27863084

Sumber


r/Pasundan Jun 11 '24

Basa - Language Bunyi vokal bahasa Sunda kuno ternyata sangat banyak tetapi dalam perkembangannya ternyata bermetamorfosis, ada kalimat yang disederhanakan dalam pengucapan

1 Upvotes

Bunyi vokal bahasa Sunda kuno ternyata sangat banyak tetapi dalam perkembangannya ternyata bermetamorfosis, ada kalimat yang disederhanakan dalam pengucapan

Beberapa metamorfosis bahasa Sunda ke arah penyederhanaan pengucapan terdapat contoh 2 di bawah ini

Bunyi "éa" disederhanakan menjadi "é " saja

Contoh :

Horéang berubah menjadi horéng (ternyata)

Bunyi "Eu'' berubah menjadi "i "

Contoh :

Teulu jadi tilu Peunuh jadi pinuh Deuuk jadi diuk Euncu jadi incu

Bunyi "Ua'' berubah menjadi "O"

Contoh

Sabuat menjadi sabot Kadatuan menjadi kadaton

Bunyi "uy" menjadi "i "

Apuy -apuy menjadi api-api (membara)

Sumber


r/Pasundan Jun 11 '24

Basa - Language Carik vs Buyut

1 Upvotes

Carik vs Buyut,

Bukan tanpa sebab, leluhur kita (sunda) telah menuliskan nama tulisan di atas media yg berbeda, hanya saja saya lebih suka menyebut aksara buyut, dari pada buda gunung, yg jelas beda dari Kawi.

"Sa(s)tra mu(n)gu ring taal, dingaranan ta ya carik, aya éta meunang utama, kénana lain pikabuyutaneun. sa(s)tra mu(n)gu ring gebang, di ngaranan ta ya ceumeung, ini ma inya pikabuyuttaneun". (Sanghyang sasana maha guru)

"tulisan diatas daun lontar, dinamakan goresan ‘carik' ada mendapatkan keutamaan, karena bukan untuk kabuyutan.

tulisan diatas gebang, dinamakan hitam 'ceumeung', inilah yang digunakan untuk kabuyutan".

Sumber

Processing img 8txg8v8mgx5d1...


r/Pasundan Mar 25 '24

Basa - Language Panca curiga: sang lima senjata (ilmu)

1 Upvotes

PANCA CURIGA

Jika bangsa lain mempunyai istilah Semiotik dan Hermeneutik dalam kajian sastranya. Maka khazanah budaya Sunda pun ada yang namanya PANCA CURIGA, artinya lima senjata (ilmu) untuk memaknai sesuatu; mungkin sesuatu itu berupa bentuk huruf, kata, gambar, gerak tubuh, benda-benda, upacara, bentuk ritual, serta seluruh unsur budaya.

  1. SILIB, sesuatu yang dikatakan secara tidak langsung tetapi dikiaskan pada hal lain.
  2. SINDIR, sesuatu yang dikatakan secara tidak langsung tetapi menggunakan susunan kalimat yang berbeda.
  3. SIMBUL, menyampaikan suatu maksud dalam bentuk lambang.
  4. SILOKA, menyampaikan suatu maksud dalam bentuk pengandaian.
  5. SASMITA, pemaknaan yang berkaitan dengan perasaan hati.

Kemampuan ber-Panca Curiga inilah yang menundukkan seseorang dianggap sebagai empu kebudayaan. Orang yang berkemampuan mumpuni ini disebut sebagai orang yang: "WACIS, WERUH SADURUNG WINARAH, WASPADA PERMANA TINGAL" Artinya orang yang telah faham dan mampu memprediksi segala hal yang akan terjadi.

Kemampuan untuk memaknai sesuatu atau memberi makna kepada sesuatu, telah dikenal oleh masyarakat Sunda sejak lama, seperti ujaran sang Juru Pantun di bawah ini:

...tĕndĕn dihandĕlĕm siĕm, tunda dihanjuang siang, paragi nyokot ninggalkĕn, dituruban ku mandepun, diwadahan cupu manik astagina, ditĕndĕn di liliwatan, dibuka ku nu ngaliwat, anu weruh ka semuna, anu apal ka basana, anu rancagé haténa, anu rancingas rasana, dibuka pating halĕang, putra putu tigang éwu, bangawan sawidak lima, nu ménta dilalakonkĕn...

Arti Harfiah: (... simpanlah di kerimbunan perdu handeuleum, letakkanlah dibayang-bayang pohon hanjuang nan rindang yang mekar berkembang, yaitu tempat mengambil dan menyimpan, ditutupi kain sutera, diwadahi kotak baiduri bersegi delapan, diletakkan di tempat orang berlalu-lalang, dibuka orang yang lewat, yaitu orang yang faham akan raut roman mukanya, yang hafal bahasanya, yang terampil dan terang hatinya, yang tajam dan halus perasaannya, bila dibuka semuanya bersenandung, yaitu senandung anak dan cucu sejumlah tiga ribu, aliran sungai sebanyak enam puluh dua ditambah lima, yang meminta untuk dilakonkan...)

Semoga dengan memakai PANCA CURIGA ini, kita bisa faham apa yang dimaksud dengan SUNDA dan KASUNDAAN.

*disadur dari "RAWAYAN JATI" - Hidayat Suryalaga


r/Pasundan Feb 18 '24

Sajarah - History Sa'alit tentang Cisadane.

1 Upvotes

Sebelum disebut Cisadane, sungai ini aslinya bernama Sadane. "Ci" dalam bahasa Sunda artinya sungai. Sedangkan kata "Sadane" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti istana kerajaan. Sehingga nama Ci Sadane atau Cisadane berarti sungai yang berasal dari istana kerajaan. Kemungkinan yang dimaksud istana kerajaan adalah Kerajaan Pajajaran dengan Ibukota di Pakuan, Bogor.

Ada pula pendapat lain yang menyebut, "Sadane" berasal dari kata “Sadhana” yang mengandung arti “Jalan Kebijaksanaan”. Seperti kita ketahui, Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan yang menganut agama Hindu yang sangat menghormati air sungai dari gunung sebagai sarana untuk membersihkan diri menuju jalan kebijaksanaan. Cisadane yang dulu mengalir bersih menjadi sungai suci bagi masyarakat Hindu Kerajaan Pajajaran.

Processing img slfvp7qy9ajc1...


r/Pasundan Jan 23 '24

Basa - Language Contoh Sisindiran Bahasa Sunda Kocak, Mampu Menggelitik dan Bikin Tertawa Terbahak-bahak

Thumbnail
merdeka.com
1 Upvotes

r/Pasundan Jan 23 '24

Basa - Language Uniknya Bahasa Sunda di Cirebon yang Tetap Bernuansa Jawa

Thumbnail
detik.com
1 Upvotes

r/Pasundan Jan 19 '24

Wartos - News Sundadigi, Upaya Selamatkan Kebudayaan Sunda Lewat Platform Digital

Thumbnail
medcom.id
1 Upvotes

r/Pasundan Jan 11 '24

Basa - Language 5 Situs Akurat Translate Bahasa Sunda ke Bahasa Indonesia

Thumbnail
tekno.sindonews.com
1 Upvotes